Oleh: Zeyn Ruslan
Variatips.com - Jika kita mengenal Prof. Dr. Muhammad Abu Musa sebagai pakar sastra Arab terkemuka dan juru kunci pusaka-pusaka Imam Abdul Qahir Al-Jurjani yang diestafeti dari gurunya al-'Allamah al-Muhaqqiq Syekh Mahmud Muhammad Syakir, murid terbaik dari sastrawan kawakan Mesir Syekh Musthafa Shadiq al-Rafi'i. Dalam produktifitas berkarya, Abu Musa tak hanya menukil rumusan-rumusan ilmu yang sudah ada. Dari penelitiannya, ia banyak menawarkan pemikiran baru yang luput (novelty) dari pembicaraan ulama balaghah masa lampau yang dikumpulkan dalam kitabnya "al-Maskūt 'Anhu".
Walaupun kini telah memasuki usia senja, sang pendidik hebat itu telah sukses melakukan regenerasi penerus estafet. Banyak dari murid-muridnya yang kini telah menjadi raksasa ilmu bahasa Arab, antara lain Prof. Dr. Ibrahim Sholah al-Hudhud, mantan rektor Universitas al-Azhar.
Al-Hudhud adalah guru besar Balaghah dan Kritik Sastra di Universitas al-Azhar. Keahliannya dalam beretorika dengan bahasa yang vokal dan lantang, membuat siapapun yang mendengarkan terkesima. Dalam pembicaraannya, ia banyak menyingkap rahasia-rahasia keindahan uslub al-Quran, al-Sunnah dan syair-syair Arab. Ia juga produktif dalam menelurkan karya ilmiah dan karya sastra dengan tidak kurang dari 50 buah bahts.
Walaupun memegang beberapa jabatan strategis, ia banyak meluangkan waktu memberikan pengajian mingguan di Masjid al-Azhar, menyampaikan khutbah Jumat dan menjadi pemateri daurah. Dalam berinteraksi, ia terkenal ramah dan terbuka termasuk kepada pelajar wafidin.
Gembelengan Muhammad Abu Musa
Bakat brilian yang dimiliki Ibrahim al-Hudhud dipantau pertama kali oleh Abu Musa saat diajar mata kuliah Qā'atul Bahts (Metodologi Penelitian) di tahun keduanya di Fakultas Bahasa Arab. Abu Musa berkharisma di mata mahasiswa, dengan haibah ulama yang melekat, rambutnya yang beruban dan bahasanya yang selalu Fusha. Dari awal masuk hingga keluar kelas, jarang sekali lidahnya tersandung berbicara 'ammiyah. Karena menurutnya, jalan terbaik menghidupkan bahasa Fusha adalah dengan menerapkannya langsung dalam komunikasi sehari-hari.
Dengan karismanya itu ia menukil kalimat samth mukhayyam yang menggetarkan seluruh mahasiswa: "Semoga Allah melaknat kendaraan yang membawa saya ke hadapan kalian, membinasakan kalian, dan mengganti kalian dengan makhluk-Nya yang lebih baik untuk menghuni ruangan yang mulia ini!"
Kemudian ia menyeru mahasiswa dengan panggila eksentrik: "Yā A'laj al-A'ājim!" Kata-kata itu masih melekat dalam memori al-Hudhud walau telah berlalu lebih 30 tahun. Ia memerintahkan seorang mahasiswa untuk membaca nash syair. Mahasiswa itu membaca dengan tidak baik. Lalu memerintahkan mahasiswa di belakangnya menggantikan. Itulah Ibrahim al-Hudhud yang kemudian membaca dengan cara yang elegan dengan nada 'arudhiyyah. Abu Musa kagum dengan caranya membaca dan memintanya mengulang, karena itu adalah syair jahili milik al-Nabigah al-Dzibyani yang terkenal sulit. Usai kuliah, Abu Musa menghadiahkan kepadanya beberapa kitab berharga, dengan tulisan tangan: "Saya hadiahkan buku ini kepada anakku Ibrahim al-Hudhud sebagai pengharagaan atas prestasinya dalam belajar."
Sebagai murid gembelengan Abu Musa, perjalanan akademis al-Hudhud berjalan dengan cemerlang. Ia menuntaskan S1-nya dengan nilai tertinggi Summa Cumlaude tahun 1987, Menyelesaikan studi magister dalam waktu empat tahun dan meraih gelar doktor tiga tahun berikutnya.
Karier akademis dan jabatannya terus melejit. Pada akhir tahun 2015, tanpa melalui pencalonan ia ditunjuk untuk mengemban amanah sebagai Rektor Universitas al-Azhar. menggantikan Prof. Dr. Abdul Hay 'Azb yang tahun itu genap berusia 65 tahun yang harus mengundurkan diri setelah peraturan baru kepensiunan dari jabatan rektorat di usia itu.
Bukan bahagia melihat muridnya menduduki jabatan tertinggi dalam civitas akademika Universitas, Syaikh Muhammad Abu Musa bersedih di hadapan muridnya akan pengangkatan al-Hudhud. Menurutnya muridnya ini telah memikul amanah besar dan khawatir, serta mengeluarkan statemen: "Padahal hampir dia menjadi ulama sejati, tapi disibukkan oleh jabatan." Begitulah penilaian ulama zahid yang berbeda dengan penilaian manusia biasa yang senang dengan jabatan tinggi. Barangkali, inilah sebabnya pada tahun 2017 ketika dicalonkan untuk menjadi rektor tetap, Prof. Ibrahim al-Hudhud memilih mundur dari pencalonan dan melepaskan amanah itu. Tak dipungkiri banyak kemajuan-kemajuan yang dialami al-Azhar selama jabatannya menjadi rektor dalam 1,5 tahun.
Pada 2016, ia turut mendampingi Grand Syaikh Ahmad al-Thayyib dalam kunjungan ke Indonesia. Setahun berikutnya juga hadir dalam Konferensi Internasional Alumni al-Azhar yang diadakan di NTB.
Masa Kecil al-Hudhud
Al-Hudhud lahir dari keluarga biasa di Kampung Thahlah, Banha, Qalyubiyyah. Sebuah desa kecil yang telah memunculkan banyak ulama berpengaruh yang menjadi inspirasi bagi al-Hudhud, antara lain Syaikh Abdul Fattah Badawi, yang menjadi guru Imam Mutawalli Sya'rawi, Syaikh Al-Baquri dan masyaikh besar lainnya.
Pendidikan agama ia mulai di Kuttab dengan belajar dan menghafal Alquran dari Syaikh Musa Abdul Ghani Ahmad Sya'lan. Dari didikan syaikh itu, tak hanya al-Hudhud seorang, banyak santri sebaya penghafal Alquran yang tumbuh menjadi orang-orang hebat dalam berbagai bidang: fisika, kedokteran dan lainnya.
Keterbatasan fasilitas di perkampungan yang minim aliran listrik dan koneksi jaringan elektronik, mendukung al-Hudhud untuk belajar dan menghafal dengan giat. Selain Alquran, ia banyak menghafal matan kitab dan syi'ir.
Cita-citanya sejak belia untuk menjadi ulama besar Bahasa Arab membuatnya mencintai al-Azhar. Ia juga ingat ketika masa kecil ia banyak menghabiskan waktu berdiam di Masjid, bantu menyapu dan merapikan tempat orang shalat. Suatu ketika guru agama bernama Syekh Muhammad Itr kala datang ke masjid menemuinya sedang menyapu. Syekh pun mendoakannya: "Wahai Ibrahim, nanti kau akan menjadi guru besar dalam Bahasa Arab dan menjadi dekan fakultasnya!" Doa itu kini telah terealisasi.
Tak heran, setelah menamatkan Tsanawi dengan meraih peringkat ke-4 terbaik se-Republik Mesir, ia memilih melanjutkan studinya di Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar.
Al-Hudhud dan Karya Sastra
Di samping produktif menulis karya ilmiah dan kritikus sastra, al-Hudhud juga terjun menjadi aktor menyemarakkan dunia sastra melalui karya-karya syairnya yang terkumpul dalam dalam Dīwan al-Shadr dan Dîwan tahta al-Shudūr. Naluri (saliqah) bersyairnya ia asah sejak menjadi mahasiswa. Ia kerap berparsitipasi dalam festival syair, termasuk dalam solidaritas Palestina. Dari para penyair, ia mengidolakan Al-Mutanabbi, sang pemilik pena setajam pedang dalam menuliskan syair-syair hikmah yang menjadi inspirasi baginya.